Rabu, 7 Disember 2011

BERILMU BERIMAN BERAMAL

"Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang"

Dari Abu Musa r.a katanya, Nabi s.a.w bersabda:

     ”Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan yang Allah mengutuskan aku untuk menyampaikannya seperti hujan lebat jatuh ke bumi. Bumi itu ada yang subur menghisap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras, tidak menghisap air sehingga tergenang. Maka Allah memberi manfaat dengan ia kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), dan untuk bercucuk tanam. Dan ada pula hujan yang jatuh ke bahagian lain iaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. 

    Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama yang mahu memanfaatkan apa yang aku disuruh Allah menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Dan begitu pula perumpamaan orang yang tidak mahu memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah yang aku diutus untuk menyampaikannya.” (Hadis riwayat Imam Bukhari)

Huraian:-

     Tarbiyyah (pendidikan) yang semestinya dilalui oleh setiap orang Islam cukup banyak. Berbagai tarbiyah yang telah dilalui oleh para sahabat Rasulullah s.a.w sehingga menjadikan mereka memiliki iman yang teguh, bahkan membentuk mereka menjadi generasi terbaik. 

Allah berfirman: "Dan sesungguhnya jika mereka melaksanakan nasihat yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (hati mereka di atas kebenaran)." (An Nisa : 66) 

    Maka mempelajari ilmu agama adalah termasuk medan jihad yang paling mulia di mana daripada ilmu tersebut seseorang itu dapat berdakwah(menyebarkannya) kepada orang lain yang sekaligus menjadikan imannya semakin kukuh dan bertambah. Dia menyuruh manusia melakukan perkara–perkara kebaikan dan melarang daripada melakukan perkara kejahatan (maksiat),

Firman Allah : “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya,  Allah sangat berat seksa-Nya”( Al-Maaidah : 2)

    Dalam ertikata bahawa ia bukanlah ulama’ bisu yang berlepas diri daripada apa yang berlaku di sekelilingnya sepertimana sabda Rasulullah s.a.w:-

 "Di antara manusia, ada orang yang menjadi kunci kebaikan dan penutup kejahatan." (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Orang seperti ini juga sentiasa bergaul dengan para ulama’ untuk mendengarkan nasihat mereka. Inilah sifat orang yang belajar agama yang mahu memanfaatkan apa yang dipelajarinya dan dengan itu mereka mendapat pahala di dunia dan balasan yang baik di akhirat.


 Keutamaan Menuntut Ilmu Agama

Allah Taala telah menyebut keistimewaan Ilmu (Agama/Tauhid) dan orang-orang yang mempunyai Ilmu secara istimewa pada tingkat yang tertinggi dari lain-lain tingkat atau kedudukan manusia sebagaimana FirmanNya yang bermaksud:

"Allah telah terangkan bahawa tidak ada Tuhan melainkan Dia yang berdiri dengan keadilan dan disaksikan oleh malaikat dan ahli-ahli ilmu." (Surah Al-Imran, ayat 18).


Dan orang-orang yang kafir itu berkata: "Engkau bukanlah seorang Rasul dari Allah". Katakanlah (kepada mereka): "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dengan kamu, dan juga disaksikan oleh orang-orang yang ada ilmu pengetahuan mengenai Kitab Allah". (Surah Al-Rad:43)

Berdasarkan pengiktirafan Allah Taala di atas, maka sewajarnyalah sebagai seorang hamba yang ingin mendekatkan diri denganNya, pertama-tamanya melengkapkan dirinya, hatinya, ruhnya dan rahsianya dengan ILMU tentang agama itu. Hanya dengan pancaran Nur Ilmu inilah seseorang itu akan :

mendapat keselamatan dari tipu daya dan kesesatan, mendapat bimbingan ke arah "jalan yang lurus", mempunyai persediaan untuk ke Alam Ghaib (Barzakh) kerana mereka tahu bahawa setiap makhluk yang diciptakan oleh-Nya pasti akan merasai mati, sebagaimana Firman Allah yang bermaksud : “setiap yang bernyawa itu pasti akan merasai mati”, dan mereka juga akan menikmati erti kebahagiaan yang hakiki.

Anas bin Malik r.a. berkata; Rasulullah SAW. bersabda yang bermaksud;

“Siapa yang ingin melihat orang yang dimerdekakan Allah dari Neraka, maka lihatlah para murid(pelajar-pelajar agama), maka demi Allah yang jiwa Muhammad di tanganNya, tiada seorang pelajar yang hilir-mudik ke pintu orang Alim melainkan Allah menulis untuknya
bagi tiap-tiap huruf yang dipelajarinya dan tiap-tiap langkah sama dengan ibadat satu tahun,
dan untuk tiap langkah satu kota di syurga, dan setiap ia berjalan dimintakan ampun oleh bumi,
dan setiap pagi dan petang tetap diampunkan dosanya, dan disaksikan oleh malaikat bahkan mereka berkata: Mereka inilah yang dimerdekakan oleh Allah dari api neraka.”

Abu Laits berkata: Saya telah mendengar Abu Jaafar meriwayatkan dengan sanadnya;
Bahawa Nabi SAW. masuk ke masjid dan melihat dua majlis orang-orang berkerumun, yang satu majlis orang-orang yang berzikir, sedang majlis yang lain orang-orang mempelajari fekah dan berdoa mengharapkan rahmat Allah, maka sabda Nabi SAW. yang bermaksud;

“Kedua-dua majlis ini baik dan yang satu lebih afdhal (utama) dari yang lain. Adapun mereka itu berzikir minta kepada Allah, terserah apakah diterima atau ditolak oleh Allah. Adapun yang ini maka mereka belajar dan mengajar pada orang yang bodoh, sedang aku diutus sebagai guru, maka mereka ini yang lebih afdhal.”
 Kemudian Nabi SAW. duduk bersama mereka.

Abu Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Katsier bin Qays berkata: Saya duduk bersama Abu Darda' r.a. di Masjid Damsyik, tiba-tiba datang seorang dan berkata: Saya datang kepadamu dari Madinah, kerana saya mendengar bahawa kamu meriwayatkan satu Hadis dari Rasulullah SAW. Lalu ditanya oleh Abu Dardaa': Apakah kamu tidak datang untuk berdagang atau hajat keperluan lain-lainnya, betul-betul kamu tidak datang kecuali untuk belajar hadits ini? Jawabnya: Benar-benar saya tidak datang kemari kecuali untuk belajar Hadis ini. Maka Abu Dardaa' berkata: Saya telah mendengar Nabi SAW bersabda yang bermaksud:

"Siapa yang berjalan di jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan dari jalan-jalan syurga. Dan malaikat selalu menghamparkan sayapnya untuk menaungi orang yang menuntut ilmu kerana redha dengan apa yang dilakukan. Dan seorang yang alim itu dimintakan ampun oleh semua penduduk langit dan bumi dan ikan-ikan di dalam air' dan kelebihan seorang alim terhadap seorang ahli ibadat sebagaimana kelebihan bulan purnama terhadap lain-lain bintang. Dan, Ulama' itu sebagai pewaris dari Nabi-Nabi, dan Nabi-Nabi itu tidak mewariskan harta perak atau emas, tetapi mereka mewariskan ilmu, maka siapa yang mendapatkannya bererti telah mendapat bahagian yang sebanyak-banyaknya."

Abu Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas'ud r.a. yang bermaksud:
"Dua macam kerakusan yang tidak mendatangkan kekenyangan, iaitu yang menuntut ilmu dan yang mengejar dunia, tetapi keduanya tidak sama, adapun yang menuntut ilmu maka selalu bertambah diredhoi Allah, sedang yang mengejar kekayaan dunia bertambah maharajalela dalam kesesatannya,

Kemudian ia membaca yang membawa maksud : "Sesungguhnya yang takut kepada Allah ". Dan membaca yang bermaksud "Tidak, tidak demikian, tetapi manusia akan melampaui batas bila ia merasa kaya, tidak berhajat kepada orang lain".

Abu Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhamad bin Sirin berkata: Ketika saya masuk ke Masjid Bashrah, sedang Al Aswad bin Sarie' dikerumuni orang yang sedang mendengar pengajiannya, dan di lain sudut masjid orang berkerumun membicarakan ilmu feqah, lalu saya sembahyang tahiyyatul masjid di antara mereka, kemudian setelah selesai, tergerak dalam hati : Andaikan saya hadir di majlis zikir, kalau-kalau mereka diterima atau mendapat rahmat saya pun akan mendapat juga, tetapi jika saya duduk bersama ahli feqah kemungkinan saya mendengar apa-apa yang belum pernah saya dapat, dalam perasaan yang sedemikian itu akhirnya saya keluar dan tidak duduk bersama mereka, dan pada malamnya saya bermimpi didatangi seorang yang berkata : Andaikata kau duduk bersama ahli feqah nescaya kamu mendapat Jibril duduk bersama mereka.
Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan r.a dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).”
Hadits yang mulia ini menunjukkan agungnya kedudukan ilmu agama dan keutamaan yang besar bagi orang yang mempelajarinya, sehingga Imam an-Nawawi dalam kitabnya Riadhus Solihin  pada pembahasan “Keutamaan Ilmu” mencantumkan hadits ini sebagai hadits yang pertama. Imam an-Nawawi berkata: “Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu (agama) dan keutamaan mempelajarinya, serta anjuran untuk menuntut ilmu.”
Imam Ibnu Hajar al-’Asqalaani berkata: “Dalam hadits ini terdapat keterangan yang jelas tentang keutamaan orang-orang yang berilmu di atas semua manusia, dan keutamaan mempelajari ilmu agama di atas ilmu-ilmu lainnya.”
Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini adalah:
1. Ilmu yang disebutkan keutamaannya dan dipuji oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah ilmu agama.
2. Salah satu ciri utama orang yang akan mendapatkan taufik dan kebaikan dari Allah Ta’ala  adalah dengan orang tersebut berusaha mempelajari dan memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam agama Islam.
3. Orang yang tidak memiliki keinginan untuk mempelajari ilmu agama akan terhalang untuk mendapatkan kebaikan dari Allah Ta’ala.
4. Yang dimaksud dengan pemahaman agama dalam hadits ini adalah ilmu/pengetahuan tentang hukum-hukum agama yang mewariskan amalan shaleh, karena ilmu yang tidak dibarengi dengan amalan shaleh bukanlah merupakan ciri kebaikan.
5. Memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar merupakan momentum bagi manusia untuk mencapai darjat takwa kepada Allah Ta’ala.
6. Pemahaman yang benar tentang agama Islam hanyalah bersumber dari Allah semata, oleh karena itu hendaknya seorang muslim disamping giat menuntut ilmu, selalu berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dianugerahkan pemahaman yang benar dalam agama.
Kata Saidina Ali bin Abi Talib Karramallahu Wajhah :
“Ilmu lebih baik daripada harta kerana  ia adalah warisan para nabi, manakala harta pula warisan Qarun dan Fir’aun. Ilmu boleh menjaga diri kamu, sedangkan harta, kamu yang menjaganya. Orang yang memiliki ilmu mempunyai ramai teman, sedangkan pemilik harta mempunyai ramai musuh. Ilmu pengetahuan itu akan bertambah jika diamalkan, sedangkan harta akan berkurangan jika dibelanjakan. Pemilik ilmu pengetahuan sentiasa dihormati, sedangkan pemilik harta akan dikenali sebagai si kedekut. Pemilik ilmu akan memberi syafaat, pemilik harta akan dihisab. Biarpun masa berlalu namun ilmu tidak lapuk ditelan zaman, tetapi harta itu semakin lama semakin usang, ilmu pengetahuan dapat menyinari hati, tetapi harta mengeraskan hati. Orang berilmu mengakui dirinya sebagai hamba Allah, sedangkan orang berharta mengakui dirinya pemilik.”

Hadis-Hadis Mengenai Kelebihan Menuntut Ilmu

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Malaikat-malaikat sentiasa menurunkan sayapnya (sebagai memuliakan dan meghormati) penuntut ilmu agama, kerana mereka suka dan bersetuju dengan apa yang penuntut itu lakukan.” Riwayat Abu ad-Darda’ r.a

Rasulullah SAW bersabda, maksudnya: “Siapa yang keluar untut menuntut ilmu maka ia berjuang fisabilillah hingga ia kembali.” Riwayat At-Tarmizi dan Ad-Darimi

Rasulullah SAW bersabda maksudnya: “Jadikanlah dirimu orang alim (berilmu)atau orang yang menuntut ilmu atau orang yang selalu mendengar pengajaran atau orang yang mencintai (tiga golongan yang tersebut ) dan janganlah engkau menjadi dari golongan yang kelima, yang dengan sebabnya engkau akan binasa.” Riwayat al-Bazzar

Sabda Rasulullah SAW  yang bermaksud: “Sesiapa yang mempelajari ilmu yang boleh mendapatkan keredhaan Allah, sedangkan dia mempelajarinya kerana ingin menndapat habuan dunia, dia tidak akan dapat mencium bau syurga di hari akhirat kelak.” Riwayat Abu Daud
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud :  “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya, juga para penghuni langit dan bumi, sampaikan semut yang ada di dalam liangnya, bahkan sampaikan ikan-ikan di laut, nescayalah semua itu menyampaikan kerahmatan kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada para manusia.” Riwayat Imam Tirmizi
Di samping itu, banyak hadis yang disabdakan oleh Rasulullah SAW tentang kematian bagi orang-orang yang sedang menuntut ilmu antaranya :
 “Barangsiapa yang mati di dalam keadaan menuntut ilmu untuk menghidupkan agama Islam, maka dia berada di dalam Syurga kelak satu darjat dengan para nabi.”
Saidina Umar RA telah berkata : “Sesungguhnya mati seribu orang yang kuat beribadat setiap malam kepada Allah Taala dan berpuasa setiap hari terlebih mudah daripada mati seorang yang alim atau mengetahui perkara-perkara yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah.”
Jika kita teliti kepada kepentingan ilmu seperti yang telah dijelasnkan di atas, maka seharusnya bagi kita sebagai “Ummah Terbaik” mengambil kesempatan yang berharga di dalam kehidupan ini untuk merancakkan lagi pemburuan ilmu itu. Maka menuntut ilmu itu tidak mengira usia sama ada seseorang itu muda atau tua, lelaki atau perempuan semua digalakkan menuntut ilmu.
Untuk itu, menuntut ilmu agama adalah merupakan perkara yang menjadi kemestian bagi sesiapa sahaja, kerana dengan ilmu yang shohih sahajalah syariat dapat ditegakkan. Bertepatan dengan hadis Nabi SAW yang bermaksud :
“Menuntut Ilmu itu adalah kewajipan kepada muslimin dan muslimah”


Semoga Allah memberi taufik dan hidayahnya kepada kita semua.
Rasulullah SAW bersabda  yang bermaksud :  “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya, juga para penghuni langit dan bumi, sampaikan semut yang ada di dalam liangnya, bahkan sampaikan ikan-ikan di laut, nescayalah semua itu menyampaikan kerahmatan kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada para manusia.” Riwayat Imam Tirmizi



Khamis, 1 Disember 2011

kELEBIHAN SELAWAT

1) Sabda Rasulullah SAW : Barang siapa yang berselawat ke atas ku sekali, nescaya Allah akan turunkan rahmat ke atasnya 10 kali ganda - (HR Muslim.)

2) Allah akan hapuskan dosa2 kecil dengan kita mengamalkan berselawat sebanyak 11 kali setiap kali selesai menunaikan solat fardu.

3) Jodoh ditentukan oleh Allah. Amalkan selawat 100 kali sehari, insya Allah akan dipermudahkan bertemu jodoh sama ada lelaki @ wanita.

4) Setiap penyakit ada penawarnya. Bacalah selawat 7 kali pada air dan minum. Insya Allah, perut yang sakit atau memulas akan sembuh.

5) Sesiapa yang amal membaca selawat 3 kali setiap selepas solat 5 waktu akan dihilangkan kebuntuan fikiran dalam menghadapi apa jua masalah.

6) Amalkan membaca selawat sebanyak 1000 kali sehari, insya Allah akan dikurniakan kebijaksanaan pemikiran. Di samping itu berusahalah untuk menerokai pelbagai ilmu.

7) Sesiapa yang mengamalkan berselawat 11 kali setiap hari, dengan izin Allah dirinya akan lebih dihormati dan dihargai oleh orang lain.

8) Menurut Sayyid Ahmad Dahlan, sesiapa yang berselawat walau sekali pada malam Jumaat, saat mautnya kelak akan dipermudahkan Allah seperti yang dihadapi oleh para nabi.

9) Sesiapa yang berselawat 41 kali sehari, Insya Allah akan dihindarkan daripada sifat tercela seperti hasad dengki, dan sebagainya dalm dirinya.

10) Sesiapa yang amalkan berselawat 1000 kali pada malam Jumaat, Insya Allah akan beroleh kebahagiaan samada di dunia mahupun di akhirat.

11) Amalkan selawat 11 kali tiap kali selesai solat fardu kerana Allah akan mengindahkan akhlaknya menjadi lebih disenangi di kalangan orang lain.

12) Berselawat 33 kali sehari dapat menjernihkan hati, mudah memahami akan sesuatu ilmu yang diajarkan, di samping beroleh ketenangan fikiran.

13) Sesiapa yang berselawat tak kiralah banyak mana hitungannya setiap hari akan dapat keberkatan dalam apa jua dengan syarat ia berusaha mencari keredhaanNya.

14) Amalan berselawat sebanyak yang mungkin setiap hari menjamin keselamatan hidup dan pertolongan Allah, lebih-lebih lagi pada saat kita menghadapi kesukaran hidup.

15) Menurut Syibab Ahmad, sesiapa berselawat 3 kali setiap selesai solat Subuh, Maghrib & Isyak, Allah akan menghindarkannya daripada sebarang bencana.

16) Sesiapa yang amalkan berselawat sebanyak 1000 kali setiap hari, Allah akan memeliharanya daripada sebarang ancaman musuh serta bahaya fitnah.

17) Amalan berselawat secara teratur setiap hari mampu membersihkan kekeruhan jiwa, dipermudahkan Allah akan segala urusan dan mendapat keampunan daripadaNya.

18) Menurut As-Shawi, sesiapa yang membaca selawat secara rutin, akan terpelihara hatinya daripada gangguan serta tipu daya syaitan yang melalaikan.

19) Membaca selawat 10 kali pada setiap waktu pagi dan petang akan memperoleh keredaan serta dijauhkan diri daripada mendapat kemurkaan Allah.

20) Sesiapa yang membaca selawat sebanyak 7 kali selama 7 Jumaat berturut2, ia bakal mendapat syafaat (pertolongan) daripada baginda SAW.

21) Menurut Al-Hafiz Dimyati, sesiapa yang berhajat menemui Nabi SAW dalam mimpinya maka amalkan membaca selawat sebanyak 70 kali sehari.

22) Ada riwayat yang menyatakan bahawa amalan berselawat 80 kali tiap selepas solat Asar pada hari Jumaat, InsyaAllah akan dihapuskan dosa2 kecil seseorang.

23) Sesiapa yang sering mengamalkan berselawat pada setiap hari, Allah akan bukakan pintu rahmat dan rezeki yang tidak disangka-sangka baginya.

24) Jiwa yang resah gelisah dapat ditenangkan dengan zikir, termasuklah berselawat sekerap yang mungkin kerana Allah itu Maha Luas rahmatnya.

25) Ulamak berpendapat, sesiapa yang mengamalkan selawat saban hari tak kira berapa hitungannya, insya Allah dihindarkan daripada taun dan wabak penyakit berbahaya yang lain.

26) Membaca selawat 1000 kali selepas solat hajat 2 rakaat mampu menghilangkan keresahan, rasa dukacita serta dikabulkan Allah akan hajatnya.

27) Menurut para ulama, sesiapa yang inginkan saat kematiannya dalam kesudahan yang baik, maka berselawat lah sebanyak 10 kali setiap selesai solat Maghrib.

28) Para Ulamak berpendapat, Allah akan sempurnakan hajat yang baik dengan sentiasa berselawat 40 hingga 100 kali setiap hari, diikuti dengan usaha yang berterusan.

29) Sabda Nabi SAW: Barangsiapa yang berselawat kepadaku sebanyak 100 kali pada hari Jumaat, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan keadaan bercahaya - HR Abu Naim.

30) Sabda Nabii SAW: Barangsiapa berselawat kepadaku 10 kali pada waktu pagi dan 10 kali pada waktu petang tiap hari, ia akan beroleh syaafaatku pada hari kiamat - HR Thabran




Rabu, 12 Oktober 2011

Jom Laksanakan Solat




Sekiranya saya laksanakan solat,
1. Saya telah mendirikan agama saya.

2. Saya diberi pahala dan syurga.

3. Saya telah tunaikan wasiat Nabi Muhammad SAW.

4. Saya terselamat dari neraka Allah.

5. Saya dapat lihat Allah di syurga.

6. Allah akan sentiasa tolong saya.

7. Allah akan ingat dan tolong saya.

8. Allah beri hidayah kepada saya.

9. Allah gugurkan segala dosa saya.

10. Hidup saya menjadi tenang, senang dan tenteram.



Sekiranya saya meninggalkan solat,


1. Saya telah meruntuhkan agama saya.

2. Saya dimasukkan ke neraka Saqar.

3. Saya derhaka kepada Allah dan Nabi.

4. Saya telah melakukan dosa besar.

5. Saya akan digelar orang munafik.

6. Kematian saya penuh penyeksaan.

7. Hidup saya penuh bala dan susah.









Selasa, 11 Oktober 2011

Kepentingan Ilmu


Hadith :
Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:
"Jadikanlah dirimu orang alim (berilmu) atau orang yang menuntut ilmu atau orang yang selalu mendengar pengajaran atau orang yang mencintai (tiga golongan yang tersebut) dan janganlah engkau menjadi dari golongan yang kelima, yang dengan sebabnya engkau akan binasa".
(Riwayat al-Bazzar)
Huraian
Pengajaran hadith
 :
  • Ilmu menduduki darjat yang tinggi di sisi manusia dan juga di sisi Allah S.W.T. Orang yang berilmu akan dimuliakan oleh penduduk langit dan bumi sebaliknya bagi orang yang tidak berilmu.
  • Oleh itu setiap mukmin hendaklah berusaha mempertingkatkan kemajuan dirinya sama ada :
  1. Menjadikan dirinya orang alim (berilmu) yang mengajarkan ilmunya kepada orang lain.
  2. Menjadi orang yang belajar (menuntut ilmu).
  3. Mendengar atau mengikuti majlis-majlis ilmu.
  4. Menghormati atau mencintai salah satu atau ketiga-tiga golongan di atas dengan menurut jejak langkah mereka.
  • Dengan adanya sifat-sifat yang disebutkan di atas maka kehidupan seseorang itu akan sentiasa terjamin untuk mendapat keselamatan dan kebahagiaan jasmani atau rohani kerana ia sentiasa berada dalam jagaan ilmu pengetahuan yang memimpinnya ke jalan yang benar dan memberinya kesedaran untuk memilih antara yang baik dan yang buruk.
  • Manakala mereka yang tidak termasuk dalam golongan tersebut atau yang dipanggil masyarakat sebagai "bodoh sombong" maka mereka adalah golongan yang bakal mendapat kebinasaan kerana mereka tidak ada pimpinan yang dengannya dapat memandu kepada kebaikan melainkan hidup terumbang ambing dan tenggelam dalam kesesatan.

Rabu, 26 Januari 2011

KEUTAMAAN HAFIZ DAN HAFIZAH ATAU PENGHAFAZ AL-QURAN

Allah telah menjanjikan kelebihan kepada mereka yang menghafal al Quran seperti yang digambarkan di bawah…

1.MEREKA ADALAH KELUARGA ALLAH SWT.
Sabda Rasulullah s.a.w:
"Daripada Anas ra. Ia berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, "Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia." Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah s.a.w bertanya: "Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: "Iaitu ahli Quran (orang yang membaca atau menghafal Al- Quran dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.

2.DI TEMPATKAN SYURGA YANG PALING TINGGI
Sabda rasulullah s.a.w:
"Daripada Abdullah Bin Amr Bin Al Ash ra dari nabi s.a.w, baginda bersabda; Diakhirat nanti para ahli Al Quran di perintahkan, "Bacalah dan naiklah kesyurga. Dan bacalah Al Quran dengan tartil seperti engkau membacanya dengan tartil pada waktu di dunia. Tempat tinggal mu di syurga berdasarkan ayat paling akhir yang engkau baca."

3.AHLI AL QURAN ADALAH ORANG YANG ARIF DI SYURGA
Sabda rasulullah s.a.w "Daripada Anas ra. Bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda; "Para pembaca Al Quran itu adalah orang-orang yang arif di antara penghuni syurga,"

4.MENGHORMATI ORANG YANG MENGHAFAL AL QURAN BERERTI MENGAGUNGKAN ALLAH SWT.
Sabda rasulullah s..a.w  "Daripada Abu Musa Al Asya'ari ra.ia berkata bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Diantara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati Orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal Al-Quran yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan Al-Quran tidak di amalkan, serta menghormati kepada penguasa yang adil."

5.HATI PENGHAFAL AL-QURAN TIDAK DI SEKSA
Sabda rasulullah s.a.w.
" DaripadaAbdullah Bin Mas'ud ra. Daripada nabi s.a.w. baginda bersabda: " bacalah Al Quran kerana Allah tidak akan menyeksa hati orang yang hafal al-quran.
Sesungguhanya Al -Quran ini adalah hidangan Allah, siapa yang memasukkunya ia akan aman. Dan barangsiapa yang mencintai Al Quran maka hendaklah ia bergembira."

6.MEREKA LEBIH BERHAK MENJADI IMAM DALAM SOLAT
Sabda rasulullah s.a.w. :
"DaripadaIbnu Mas'ud ra. Dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda; "yang menjadi imam dalam solat suatu kaum hendaknya yang paling pandai membaca Al Quran."

7.DISAYANGI RASULULLAH S.A.W
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Jabir Bin Abdullah ra. Bahawa nabi s.a.w menyatukan dua orang daripada orang-orang yang gugur dalam perang uhud dalam satu liang lahad.
Kemudian nabi s.a.w. bertanya, "dari mereka berdua siapakah paling banyak hafal Al Quran?" apabila ada orang yang dapat menunjukkan kepada salah satunya, maka nabi s.a.w memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke liang lahad."

8.DAPAT MEMBERIKAN SYAFAAT KEPADA KELUARGA
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah ia berkata, "Barangsiapamembaca Al Quran dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya kedalam syurga dan memberikannya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya di mana mereka semuanya telah di tetapkan untuk masuk neraka."

9.PENGHAFAL AL QURAN AKAN MEMAKAI MAHKOTA KEHORMATAN
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Abu Hurairah ra.daripada nabi s.a.w. baginda bersabda: "orang yang hafal Al Quran nanti pada hari kiamatnanti akan datang dan Al Quran akan berkata; "Wahai Tuhan ,pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru." Maka orang tersebut di berikan mahkota kehormatan. Al Quran berkata lagi:
"Wahai Tuhan tambahlah pakaiannya." Maka orang itu di beri pakaian kehormatannya. Al Quran lalu berkata lagi, "Wahai Tuhan, redailah dia." Maka kepadanya di katakan; "Bacalah dan naiklah." Dan untuk setiap ayat, ia di beri tambahan satu kebajikan."

10.HAFAL AL QURAN MERUPAKAN BEKALAN PALING BAIK.
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada jabir bin nufair, katanya rasulullah s.a.w. bersabda; "Sesungguhnya kamu tidak akan kembali menghadap Allah dengan membawa sesuatu yang paling baik daripada sesuatu yang berasal daripada-Nya iaitu Al Quran.

11.ORANG TUA MEMPEROLEHI PAHALA KHUSUS JIKA ANAKNYA PENGHAFAL AL QURAN.
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahawasanya ia mendengar Rasulullah s..a.w bersabda: "Pada hari kiamat nanti, Al Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: "Apakah anda mengenalku?".
Penghafal tadi menjawab; "saya tidak mengenal kamu." Al Quran berkata; "saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: "kenapa kami di beri dengan pakaian begini?". Kemudian di jawab, "kerana anakmu hafal Al Quran.".
Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi di perintahkan, "bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya." Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil).

12.AKAN MENEPATI KELAS TERTINGGI DI DALAM SYURGA.
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Sisyah ra ia berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda; jumlah tingkatan-tingkatan syurga sama dengan jumlah ayat-ayat Al Quran. Maka tingkatan syurga yang di masuki oleh penghafal Al Quran adalah tingkatan yang paling atas, dimana tidak ada tingkatan lagi sesudah itu”.



Jumaat, 21 Januari 2011

PRINSIP POLITIK ISLAM



           

             Islam adalah petunjuk Allah SWT dengan ajaran-ajaran yang istimewa dan wajib dipelajari serta dikaji dengan mendalam,termasuklah bidang politik. Bagi menjamin keluhuran politik yang menjadi keperluan manusia secara fitrah dan mencapai objektif peranan manusia yang diletakkan di bumi oleh Tuhan Yang Maha Esa dan pencipta alam ini. Allah SWT menetapkan beberapa prinsip bagi menjadi landasan yang wajib ditaati secara menyeluruh.

Firman Allah SWT :
“Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan supaya kamu menunaikan amanah kepada ahlinya dan apabila kamu menjalankan hukum dikalangan manusia,hendaklah melaksanakan hukum itu dengan adil. Sesungguhnya Allah SWT memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Wahai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah SWT dan taatlah kamu kepada Rasul dan Ulil Amri(orang-orang yang mengendalikan urusan yang terdiri daripada pemimpin dan ulama’). Maka jika sekiranya kamu bertelingkah dalam apa-apa perkara,hendaklah kamu kembalikan penyelesaiannya kepada Allah SWT dan hari akhirat. Itulah sebaik-baik dan lebih elok penyelesaiannya”.-an-Nisa’,ayat 58-59-

             Ibnu Taimiyyah menghuraikan,bahagian pertama ayat ini ditujukan kepada pemimpin-pemimpin kerajaan yang memerintah dan bahagian yang kedua adalah peranan yang perlu dilakukan oleh rakyat.

AKIDAH ISLAM

            Politik Islam adalah berlandaskan kepada akidah tauhid (Allah SWT Yang Satu) dan menolak syirik (menyekutukan Allah). Ini bermakna kepercayaan kepada rukun-rukun Iman adalah bermula daripada beriman kepada Allah Yang Maha Esa sehinggalah Hari Akhirat. Iman dinyatakan juga dengan kepercayaan kepada seluruh yang datang daripada Allah SWT dan RasulNya,Nabi Muhammad SAW. Iman mengikat antara roh dan jasad supaya boleh mengendalikan kewajipan berpolitik secara ibadah yang mewajibkan tunduk dan patuh kepada Allah SWT dan Rasul secara mutlak dan diberi keizinan menggunakan kebijaksaan menangani perubahan dengan cara yang betul.

Firman Allah SWT :
“Allah SWT berjanji kepada orang-orang yang beriman di kalangan kamu, bahawa Dia menjadikan mereka orang-orang yang memerintah di bumi, sebagaimana Dia pernah mengurniakan kepada orang-orang yang terdahulu daripada mereka, Dia jadikan agama (Islam) yang diredhaiNya untuk mereka berkuasa, dan Dia menukarkan keadaan daripada ketakutan kepada keamanan. Mereka mengabdikan diri kepada Ku dan mereka tidak melakukan syirik terhadap Ku. Maka sesiapa yang kufur selepas itu mereka itulah orang-orang yang fasik.”-an-Nur,ayat 55-

            Akidah Islam yang menegakkan tauhid (Allah SWT Yang Satu) dan menolak syirik (menyekutukan Allah SWT) menjadi prinsip pertama kepada seluruh ajaran Islam. Akidah Islam juga menjadi syarat pertama sahnya sesuatu amalan bagi diterima Allah SWT menjadi amal soleh yang dijanjikan ganjaran pahala dan kurnia di Hari Kiamat. Syarat ini bukan sahaja syiar ibadah, tetapi ia termasuk juga mereka yang berpolitik sebelum dan selepas negara ditegakkan. Akidah Islam menjadi prinsip kepada sesebuah negara itu apabila didirikan, kerana urusan politik juga berada dibawah senarai perintah Allah SWT yang wajib  di imani dan di amal mengikut hukum Allah SWT dan dihisab pada Hari Kiamat.

SYARIAH YANG BERKUASA

            Ketinggian syariah Islam menjadi perlembagaan dan sumber perundangan yang berkuasa kepada pihak pemerintah. Ia juga adalah rukun penting kepada dasar dan objektif politik Islam.

Firman Allah SWT :
“Sebenarnya hukum (undang-undang) hanyalah bagi Allah SWT. Ia memerintah kamu jangan menyembah melainkan Dia. Yang demikian itulah agama yang betul, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”-Yusuf,ayat 40-

            Kuasa tertinggi syariah Islam yang menjadi prinsip politik Islam yang teguh bagi menjamin tertegaknya keadilan tanpa mengongkong akal dan pengalaman manusia dalam perkara yang baik serta memberi maslahat. Syariat memelihara hukum penting bagi kehidupan manusia seperti agama, nyawa, maruah, keturunan dan harta. Ini selaras dengan fitrah ciptaan Allah SWT bagi manusia itu dengan menyeluruh yang merangkumi aspek jasad, roh, individu, masyarakat dan hubungan mereka dengan makhluk yang lain. Perkara yang hanya boleh dipenuhi oleh ilmu Allah SWT yang tidak terhingga dan tidak mampu ditanggung oleh ilmu manusia yang terbatas.

            Syariah Islam mengandungi perkara yang tetap (thawabit) dan hukuman putus (qat’iyyat) tanpa dapat dipinda. Ini termasuklah dalam perkara tingkah laku manusia, dasar alam yang tidak berubah dan masalah yang tidak mungkin boleh diselesaikan oleh manusia yang mempunyai kelemahan dan perkara ini adalah di luar batas akal dan ilmu mereka. Perkara ini bukan sahaja berkait dengan jasad manusia seperti bernafas, degupan jantung, denyutan nadi dan lain-lain tetapi dalam urusan alam semesta seperti naik turun matahari, musim, arah tiupan angin dan lain-lain adalah dibawah kekuasaan Allah SWT.

          Oleh itu, dalam urusan kehidupan manusia, Allah SWT menegaskan hukum seperti halal dan haram, hukuman deraan qisas dan hudud dalam perkara jinayat mestilah patuh akan syariat Islam dan menjamin keadilan dan hak untuk semua pihak.

            Syariah Islam yang bersumberkan dari pelbagai dapat memenuhi segala keperluan tempat, semasa, situasi dan reality dan sumbernya adalah:

1.     Al-Quran
2.     Hadis
3.     Ijmak
4.     Qias
Sesetengah Ulama Islam menambahkannya dengan:
5.     Istihsan iaitu memilih yang terbaik dan hujah logik dalam sesuatu perkara hasil daripada pandangan yang berbeza.
6.     Masolih Mursalah iaitu perkara mendatangkan kebaikan yang tidak ditetapkan oleh nas dan tidak pula menolaknya.
7.     Uruf iaitu amalan masyarakat umum yang tidak bercanggah dengan nas dan lahir daripada pengalaman masyarakat yang baik dan diterima umum.
8.     Syariat umat terdahulu boleh dijadikan sebagai pengajaran dalam perkara yang tidak ada nas membatalkan.

Syariat Islam member hak kepada penganut agama lain yang mempunyai undang-undang mereka sendiri.

Firman Allah SWT:
“Mereka itu (orang-orang Yahudi) adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan memakan yang haram (di antaranya wang rasuah). Maka jika mereka datang kepada kamu  (bagi mereka membicarakan masalah mereka), maka lakukan hukuman kepada mereka atau biarkan sahaja (tidak membicarakannya). Sekiranya kamu berpaling daripada mereka,maka mereka tidak mendatangkan apa-apa mudarat kepada kamu dan jika kamu menghukum mereka, maka hukumlah di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah SWT mengasihi orang-orang yang berlaku adil.”-al-Maidah,ayat 42-

AMANAH

            Prinsip amanah walaupun merangkumi segala aspek sudah dinyatakan secara khusus dalam aspek politik melalui al-Quran,

Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Allah SWT memerintah kamu supaya menunaikan amanah kepada ahlinya.”-an-Nisa’,ayat 58-

          Ayat ini adalah satu rantaian yang disenaraikan dalam ayat urusan politik dan dihuraikan lagi oleh petikan-petikan lain yang mencakup sifat amanah apabila memilih pemimpin dan pemimpin itu juga menunaikan amanah. Antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.
“Abu Hurairah r.a berkata, ‘apabila Nabi Muhammad SAW berada dalam sebuah majlis, dan bercakap kepada mereka yang berada disitu, tiba-tiba dating seorang badwi, dia terus bertanya, ‘Benarkah berlakunya Kiamat?’Nabi Muhammad SAW meneruskan percakapannya. Maka orang-orang yang hadir member berbagai-bagai tanggapan. Ada yang berpendapat, Nabi Muhammad SAW mendengar soalannya tetapi tidak senang dengan caranya. Ada pula yang berpendapat, Nabi Muhammad SAW tidak mendengar apa yang dikata. Tiba-tiba Nabi Muhammad SAW berkata, ‘Di manakah orang yang bertanya berkenaan Hari Kiamat? Jawabnya, ‘Ini dia! Saya wahai Nabi Muhammad SAW.’ Nabi Muhammad SAW berkata, ‘apabila dihilangkan amanah, maka ketika itu tunggulah berlakunya Kiamat.’ Dia bertanya lagi, ‘Bagaimanakah cara hilangnya amanah?’ Nabi Muhammad SAW berkata, ‘Apabila diserahkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah berlakunya Kiamat,”

            Amanah besar adalah mengurus politik, memimpin uamt dan melksanakan perintah Allah SWT dengan berpegang teguh kepada ajaran Allah SWT yang dinamakan Islam.

Hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Zar r.a:
“Saya bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, ‘Wahai Nabi Muhammad SAW! Mengapa saya tidak ditugaskan apa-apa jawatan?’ Nabi Muhammad SAW menjawab, ‘Wahai Abu Zar! Kamu seorang yang lemah, sedangkan jawatan itu adalah amanah dan sesungguhnya ia membawa kekecewaan dan penyesalan pada Hari Kiamat nanti, melainkan orang yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan kewajipan yang ditugaskan kepadanya.”

Dalam hadis yang lain, Nabi Muhammad SAW berkata:
“sesiapa yang mengendalikan sesuatu urusan kaum Muslimin, lalu dia melantik seseorang. Padahal dia dapati ada seseorang yang lain lebih layak daripadanya bagi kaum Muslimin, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah SWT dan RasulNya.”

Dalam satu hadis yang lain,
“Sesiapa yang menugaskan seseorang memegang sesuatu jawatan bagi mentadbir satu golongan, Padahal dia dapati ada di dalam golongan itu orang yang lebih diredhai (kelayakannya), maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah SWT, mengkhianati RasulNya dan mengkhianati orang-orang yang beriman.”

            Jelaslah, Islam meletakkan perkara politik atau kewajipan memimpin dan mentadir adalah perkara amanah yang besar dalam perhitungan dosa dan pahala serta tanggungjawab yang diperhitungkna daripada dunia sehingga akhirat.

KEADILAN

            Keadilan membawa makna meletakkan sesuatu pada tempatnya dalam semua urusan dan bukan sahaja dalam pembicaraan di mahkamah, malahan fungsi luas dalam semua perkara termasuklah dalam hak rohani dan kebendaan serta layanan dan bantuan. Allah SWT menjadikan keadilan itu sebagai salah satu daripada nama-nama yang terbaik bagi Allah SWT dan menjadi sifatnya yang terpuji dan wajib bagi Allah SWT serta mustahil Allah SWT itu bersifat sebaliknya. Maka keadilan Allah SWT terdapat di dalam hukum syariatnya.

            Allah SWT mewajibkan Nabi Muhammad SAW dan umatnya berlaku adil semasa berpolitik dalam memimpin negara.

Firman Allah SWT:
“Dan apabila kamu menjalankan hukuman di kalangan manusia, hendaklah kamu melaksanakan hukuman itu dengan adil. Sesungguhnya Allah SWT memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada manusia.”-an-Nisa,ayat 58-

            Keadilan Islam adalah mutlak dan menyeluruh. Maksud perkataan mutlak adalah tidak berbelah bahagi dan tidak ada pengecualian kerana keadilan juga wajib diberi kepada musuh. Sementara itu, perkataan menyeluruh adalah merangkumi segala aspek kehidupan manusia.

Firman Allah SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah SWT lagi menerangkan kebenaran, dan janganlah sekali-kali kebencian kamu terhadapnsesuatu kaum itu mendorong kamu tidak berlaku adil. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada semua dan semua keadaan), kerana ia lebih hampir kepada taqwa. Dan bertakwalah kepada Allah SWT, sesungguhnya Allah SWT itu Maha Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan.”-al-Maidah,ayat 8-

            Oleh kerana itu, Islam menentang sekeras-kerasnya dasar asabiyyah yang menjadikan teras kecintaan atau fanatik terhadap sesuatu kaum dan bangsa yang dijadikan sebagai akidah perjuangan.


 Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Bukan dari kalangan kami orang yang mengajak kepada asabiyyah, bukan dari kalangan kami orang yang berperang kerana asabiyyah, dan bukan dari kalangan kami orang yang mati di atas dasar asabiyyah.”

Mengikut riwayat hadis yang lain, ditanyakan kepada NAbi Muhammad SAW, apakah asabiyyah itu? Nabi Muhammad SAW berkata:
“Bahawa engkau menolong kaum kamu di atas dasar kezaliman.”

Asabiyyah itu adalah membela,membantu dan mempertahankan kaum serta bangsa waalaupun melakukan kezaliman terhadap kaum lain.

           Allah SWT mengharamkan amalan menghina kaum dan orang lain.

Firman Allah SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sesuatu kaum itu mempersendakan kaum yang lain, mudah-mudahan kaum yang dipersendakan itu lebih baik, dan jangan wanita mempersendakan wanita lain, mudah-mudahan yang dipersendakan itu lebih baik, dan janganlah kamu menghina, dan member gelaran buruk (sesame kamu). Alangkah buruknya nama jahat dipakai lagi setelah beriman, dan sesiapa yang tidak bertaubat, maka merekalah orang-orang yang fasik.”-al-Hujurat,ayat 11-

MESYUARAT

            Islam mewajibkan mesyuarat.

Firman Allah SWT:
“Dan orang-orang yang menyahut perintah Tuhan mereka, lalu mereka mendirikan sembahyang dan urusan mereka dikendalikan dengan bermesyuarat di kalangan mereka dan mereka membelanjakan dari apa yang kami rezekikn bagi mereka.”-asy-Syura,ayat 38-

Ayat ini menyatakan mesyuarat bersama sembahyang dan membelanjakan harta. Diwajibkan bermesyuarat bagi menunjukkan pemimpin tidak berkuasa penuh dan konsep ini tidak mengongkong kebijaksanaan seseorang pemimpin. Dengan bermesyuarat juga tidak membenarkan kebijaksanaan itu dilakukan bagi tujuan menipu tetapi mengawalnya kerana setiap manusia tetap ada kelemahannya walaupun dia mempunyai kebijaksanaan dan ilmu yang tinggi.

            Allah SWT berkata secara khusus kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi model pemimpn umat,
“Dan jika engkau bersikap kasar dan keras hati terhadap mereka, mereka lari dari keliling mu, maafkan mereka, beristighfar bagi mereka dan bermesyuarat dengan mereka dalam mengendalikan urusan. Maka apabila engkau telah bertekad dengan keazaman, tawakkallah kepada Allah SWT, sesungguhnya Allah SWT mengasihani orang-orang yang bertawakkal kepadaNya.”
Perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW menunjukkan berlakunya perbincangan (syura) dengan para sahabat dalam beberapa perkara urusan ibadah dan kehidupan khususnya dalam bidang politik. Apabila berlakunya peristiwa kewafatan Nabi Muhammad SAW, para sahabat melakukan mesyuarat tergempar bagi memilih pengganti Nabi Muhammad SAW untuk mengendalikan urusan politik negara. Begitu juga, para Khulafa’ ar-Rasyidin, apabila wujudnya masalah yang tidak ada petikan daripada al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW, mereka bermesyuarat bagi mencari di kalangan para sahabat yang dapat mengemukakan petikan atau memahami sesuatu petikan umum yang tidak jelas dan pandangan ijtihad dalam perkara yang tidak ada petikan.

KEAMANAN DAN KESELAMATAN

            Allah SWT menegaskan perkara keamanan dan keselamatan dalam beberapa ayat al-Quran. Diantaranya adalah disebut secara nyata dalam senarai dasar dan konsep negara yang di kurnia dengan pertolonganNya kepada golongan yang beriman dan beramal soleh bagi menegakkan Islam.

Firman Allah SWT:
“Dan Dia menukarkan keadaan daripada ketakutan kepada keamanan.”-an-Nur,ayat 55-

Ayat diatas dikuatkan lagi hujahnya dengan hadis ini.


Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Demi Allah! Sesungguhnya Dia akan menyempurnakan urusan agama ini (mencapai kejayaan memerintah), sehingga orang yang musafir dari sana’a ke hadhramaut, tidak takut lagi melainkan kepada Allah SWT dan serigala yang mengganggu kambingnya.”

Hadis itu menunjukkan kejayaan pemerintah Islam melaksanakan undang-undang yang hebat dan menggerunkan penjenayah sehingga berlakunya keamanan. Dunia hari ini menghadapi kegagalan undang-undang ciptaan manusia dengan meningkatnya kadar jenayah dan cara melakukannya kejam seperti mencabul nyawa, maruah dan harta sehingga manusia berada dalam ketakutan.Demikian juga, ketakutan kepada kerajaan kerana kezalimannya dengan pelbagai tindakan yang tidakn kena pada tempatnya. Dosanya lebih besar kerana kezaliman ini sukar dibendung.


 Nabi Muhammad SAW bersabda diantara perkara yang memusnahkan dunia adalah,
“Dihormati seseorang itu kerana takutkan kejahatanya.”

Islam memberi kelebihan ganjaran yang baik kepada yang berjuang di jalan Allah SWT iaitu individu yang berani mengkritik kerajaan yang zalim.


 Di dalam satu hadis Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Jihad yang lebih afdhal (besar ganjarannya) ialah berucap kalimah adil di hadapan orang yang memerintah dengan zalim.”

            Adapun perdamaian pula adalah Islam sendiri dimulakan dengan berdepan secara damai dan menyebarkan pengaruhnya, tanpa paksaan dan bersabar menghadapi kezaliman. Begitu juga, politik Islam yang menegakkan negara pertama bermula dengan cara damai. Golongan Muhajirin (orang Mekah yang berpindah ke Madinah) yang pernah dizalimi, ditindas serta diperlakukan dengan cara zalim, mereka tetap bersabar dengan tidak bertindak secara kekerasan. Mereka dating dari Mekah dan bersaudara dengan kaum Ansar yang berasal dari Madinah dan menjalinkan persefahaman (tahalluf) dengan masyarakat bukan Islam khusunya di kalangan orang Yahudi. Walaupun selepas itu datangnya perintah berperang kerana menghadapi muasuh yang menggunakan kekerasan.

Firman Allah SWT:
“Dan jika sekiranya (musuh) itu cenderung kepada perdamaian, kamu juga hendaklah cenderung kepadanya, dan bertawakkal kepada Allah SWT, seseungguhnya Allah SWT itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika mereka hendak menipu, maka cukup Allah SWT yang menjaga dan memberi perlindungan kepada kamu dengan pertolongannya dan (sokongan) orang-orang yang beriman.”-al Anfal,ayat 61-62-

Suasana perdamaian diutamakan kerana perdamaian memberi peluang terbuka bagi berbincang dengan hujah yang baik dan kejayaan menarik seseorang kepada Islam adalah sangat besar faedahnya.


 Nabi Muhammad SAW berkata kepada Ali Abu Talib semasa ditugaskan memerangi orang-orang Yahudi yang mengancam Islam dan negara Islam,
“Jalankan tugas dengan tenang sehingga engkau berada di halaman mereka, kemudian mengajak mereka kepada Islam dan beritahu kepada mereka perkara yang wajib daripada hak Allah SWT yang mesti ditunai, Demi sesungguhnya kejayaan mu menyebabkan seseorang itu mendapat hidayah daripada Allah SWT adalah lebih baik daripada kenderaan yang paling mahal harganya.”

Islam menerima dan menjalin hubungan antarabangsa sejak dahulu lagi iaitu memberi jaminan keselamatan kepada utusan negara asing. Apabila utusan Musailamah al-Kazzab yang sudah murtad dan mengaku menjadi nabi dating ke Madinah membawa suratnya, Nabi Muhammad SAW menegaskan kepada sahabatnya supaya jangan membunuhnya. Ini kerana situasinya adalah sebagai wakil utusan. Islam menerima masyarakat umum dan tidak membenarkan membunuh wakil utusan.

Firman Allah SWT:
“Dan sekiranya seseorang dikalangan orang bukan Islam meminta perlindungan kepadamu, maka berilah perlindungan kepadanya, sehingga dia mendengar kalam Allah SWT ( dakwah), kemudian sampaikan dia ke tempat yang aman.”-at-Taubah,ayat 6-

KEBEBASAN

            Kebebasan yang dimaksudkan ialah mengikut fitrah manusia yang berakal, mempunyai roh dan jasad, individualistic dan bermasyarakat serta berhubung dengan makhluk dan alam sekitar yang berada disekeliling mereka.Dalam aspek agama, Islam tidak membenarkan paksaan dalam beragama. Oleh itu, penganut agama lain dibenarkan menganut dan beramal dengan ajaran mereka. Mereka tidak boleh diganggu atau dilarang melakukan perkara yang dibenarkan oleh agama mereka.

            Dalam kebebasan berfikir, Islam menerima ilmu dan kepakaran daripada mereka yang bukan Islam dengan cara yang dihormati. Nabi Muhammad SAW semasa hijrah, baginda menggunakan kepakaran seorang musyrik yang arif dalam kawasan-kawasan yang selamat di padang pasir sehingga selamat sampai di Madinah.Islam juga memberi kebebasan bersuara termasuklah kebebasan menegur kerajaan dan pemimpin.

            Islam sudah berjaya menghapuskan penggunaan hamba abdi di kalangan masyarakat jahiliah di seluruh dunia dengan sebab peperangan dan penjajahan.Islam menyuruh supaya setiap hamba dilayan seperti keluarga sendiri dengan nafkah yang cukup dan haram membebankan dengan kerja yang diluar kemampuannya. Islam menetapkan dosa besar kepada sesiapa yang menyeksanya dan ganjaran yang besar kepada sesiapa yang berlaku baik terhadapnya. Lebih besar pahalanya apabila hamba itu di bebaskan.

            Politik Islam menjamin segala kebebasan yang perlu bagi kehidupan manusia dalam pelbagai aspek. Ia bermula daripada menganut agama yang menjadi keperluan roh sehingga menggunakan akal fikiran, berilmu,berpolitik, berekonomi dan bekerja bagi memenuhi keperluan hidup di bumi Allah SWT ini. Kerajaan bertanggungjawab mengawasi batas sempadan supaya tidak bercanggah diantara satu sama lain dan ini dilakukan dengan menyemai kesedaran dan mengadakan kawalan undang-undang.

KEPIMPINAN YANG BERWIBAWA

            Islam menentukan seorang pemimpin perlu mempunyai kewibawaan dalam aspek ilmu, akhlak dan bijaksana. Oleh itu didalam al-Quran menyebut seorang pemimpin dengan perkataan “Ulil Amri”.

            Ulil Amri bermaksud orang yang mengendalikan urusan-urusan politik, memimpin dan memerintah. Para Ulama’ keseluruhan mazhab Islam menetapkan syarat-syarat kelayakan menjadi pemimpin. Antaranya adalah wajib memenuhi kelayakan akidah, akhlak yang mulia dan ilmu yang tinggi serta peribadinya yang dihormati dan dipatuhi. Syarat yang dipenuhi secara individu dan kumpulan. Syarat yang tidak boleh dijual beli dengan harta kekayaan.

            Allah SWT menegaskan perkara yang wajib dilakukan oleh manusia yang memerintah adalah dengan membentuk diri pemimpin itu sendiri dan masyarakatnya.

Firman Allah SWT:
“Orang-orang yang kami bolehkan mereka memerintah bumi, mereka mendirikan sembahyang, mereka menunaikan zakat dan menyuruh kepada yang baik dan mencegah kemungkaran, dan bagi Allah SWT sahaja akibat segala urusan.” –al-Hajj,ayat 41-

KEPATUHAN

            Islam bukan sahaja mensyaratkan seorang pemimpin perlu mempunyai sifat yang baik dan berlaku baik tetapi rakyat juga dikehendaki taat dengan syarat yang tidak menjadikan rakyat itu hamba yang mengagungkan pamimpin seperti Tuhan. Ini kerana seorang pemimpin masih mempunyai kelemahan sebagai seorang manusia. Oleh itu, ketatan itu adalah dengan syarat dan batasan.

Firman Allah SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah SWT dan taatlah kamu kepadaRasul dan Ulil Amri (orang-orang yang mengendalikan urusan) dikalangan kamu. Maka jika sekiranya kamu bertelingkah dalam sesuatu perkara, maka kembalikan penyelesaiannya kepada Allah SWT (al-Quran) dan Rasul (sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah SWT dan Hari Akhirat. Itulah yang terbaik dan penyelesaian yang baik.”-an-Nisa’,ayat 59-

Ayat ini dihuraikan dalam satu hadis. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Mendengar dan mentaati itu adalah benar (wajib) selagi tidak disuruh perkara maksiat. Apabila disuruh perkara maksiat maka tidak dibenarkan dengar dan taat lagi.”

            Islam mengkehendaki rakyat mentaati, membantu, mendukung dan mempertahankan pemerintah yang menunaikan kewajipannya dengan adil dan betul mengikut hukum Allah SWT. Rakyat juga diminta bersabar apabila berlaku kekejaman dan hendaklah menghadapinya dengan berani. Sesiapa yang berani menegur diberi ganjaran pahala seperti orang yang berjuang dijalan Allah (jihad). 


Nabi Muhammad SAW bersabda;
“Jihad yang paling afdhal (besar ganjarannya) ialah berucap kalimah adil di hadapan pemimpin yang memerintah dengan kejam.”

KESAMAAN

            Allah SWT mengisytiharkan konsepnkesamaan dikalangan manusia dari aspek kejadian dan prinsip tanggungjawab atau menunaikan kewajipan. Perbezaan berlaku dari aspek sejauh mana mereka menuniakan kewajipan itu kerana wujudnya perbezaan kemampuan roh dan jasad. Terdapat juga perbezaan tugas kerana perbezaan kejadian natural dalam beberapa aspek dan persamaan dalam beberapa aspek yang lain. Namun begitu, tidak boleh dibezakan dari segi keadilan dan hak, ini kerana adanya perbezaan jantina, bangsa, pangkat dan harta. Hanya Allah SWT sahaja yang menentukan kemuliaan di sisiNya.

Firman Allah SWT:
“Wahai manusia! Sesungguhnya kami sudah menciptakan kamu daripada seorang lelaki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan berpuak-puak supaya kamu berkenalan di antara satu sama lain. Sesungguhnya yang paling milia di kalangan kamu di sisi Allah SWT ialah yang paling bertaqwa di kalangan kamu, sesungguhnya Allah SWT itu Maha Mengetahui dan Maha Tahu segala-galanya.”

            Dalam sudut berpolitik, Islam mendahului Barat lebih seribu tahun yang lalu yang melibatkan wanita dan segala bangsa dalam politik.

Firman Allah SWT:
“Dan orang-orang yang beriman lelaki dan orang-orang beriman wanita, mereka bertolong menolong di antara satu sama lain. Mereka menyuruh kepada yang baik, mereka mencegak kemungkaran, mereka menuniakan zakat, mereka mentaati Allah SWT dan RasulNya. Mereka itulah akan dirahmati Allah SWT dan Allah SWT itu Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”-

            Secara praktikalnya, mereka termasuklah wanita dan hamba yang terlibat dalam perjuangan sejak awal Islam. Mereka dilibatkan dalam Bai’ah (perjanjian) yang menjadi asas kepada pengisytiharan negara Islam yang pertama. Seterunya, mereka terlibat dalam beberapa majlis mesyuarat, kegiatan ekonomi dan lain-lain tanpa menjejaskan tugas-tugas rumah tangga yang menjadi urusan harian mereka.

            Mereka yang pernah menjadi hamba abdi apabila dibebaskan oleh Islam, boleh memegang jawatan dalam negara. Ini termasuklah jawatan yang paling tinggi. Dalam sejarah Islam ada diantara mereka yang menjadi khalifah yang menegakkan kerajaan Mamalik di Mesir, Kerajaan Ayyubiyyah, Othmaniyyah dan lain-lain. Ada juga di kalangan mereka menjadi Ulama’ Islam yang ter kenal yang disanjung oleh Umat Islam.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...